Mengingat Mudrik

Hari ini, 24 Desember 2019. Kemarin, 23 desember 2019. Kemarin hari terakhirku di kantor lama, yang telah “kugauli” selama 1.5 tahun. Di email pamitanku, sempat aku cantumkan link ke Blog ini. Niatnya promo dikit eh malah banyak kenangan lama muncul kembali dan hari ini, kenanganku menyusur catatan lama mengantarku pada berkas blog tentang Mudrik, seorang kawan yang telah tiada.

Tulisan dibawah, adalah copas dari tulisan yang pernah aku publish di blog lama, coratcoret. Disini aku ingin menampilkannya lagi sebagai kenangan. Kenangan seorang kawan yang baik dan layak dikenang.

—————————————————————————————————————-

Malam ini, aku menulis lagi. Bukan tentang apa apa, tapi tentang sesiapa. Tentang seorang teman yang telah mendahului menghadap keharibaanNya. Innalillahi wainaillahi rojiun, 24 Desember 2011, Ahsanu Mudrik telah menghadapmu ya Rabb!

Seorang Mudrik atau yang secara akrab sering dipanggil Godrik, adalah pribadi yang pantas ditulis dan sebagian ceritanya sudah sepantasnya pula diceritakan. Cerita ini, cerita tentang anak manusia yang melalui banyak fase unik dalam perjalanan hidupnya.

Aku mengenalnya kali pertama adalah ketika ia kali pertama mencatatkan diri sebagai mahasiswa kedokteran hewan di Universitas Udayana. Ia tinggal bersama kakaknya, Wafigni, yang satu kos denganku. Jadi perkenalanku dengan si Mudrik ini mulai dari situ.

Pada awal kuliah, Ia menunjukkan satu karakter yang nyentrik. Agak kontras dengan tampangnya yang cenderung agak ndeso, ia suka bergaul funky! Tiap kuliah dulu ia suka memakai sepatu boot, Chiko, yang pada akhir 90an cukup populer. Pada waktu itu ia punya temen gaul, yang aku ga ingat namanya, dan tampaknya bersama temannya inilah pergaulan awal itu terbentuk. Anak gaul yang nyentrik.

Salah satu gejala nyentriknya Mudrik, adalah pernah satu ketika ia pulang kampung ke Gresik kampung halamannya memakai sarung, kaus kaki putih dan sandal plus syal merah menyala dikepalanya. Orang-orang di Ubung menganggapnya aneh dan tak satupun yang menawarinya naik bis!

Tahun pertama kuliahnya, ia jalani dengan aneh pula. Tak jelas apa sebabnya, ada satu waktu si Mudrik ini mutung tidak mau melanjutkan kuliah. Awal-awal kuliahnya pun dijalaninya setengah hati. Ia pulang kampung dan ga kembali. Kalo tidak salah ingat, pada tahun kedua baru ia kembali.

Uniknya, Ia kembali sebagai sosok pribadi yang baru. Rajin kuliah dan rajin mengaji!

Kawan, kalau si Mudrik mengaji, aku betah mendengarnya. Suaranya bagus, dan adem dihati. Biasanya, sore-sore ba’da Ashar Mudrik mengaji dan suaranya tidak bisik-bisik, melainkan nyaring sampe kemana-mana. Belakangan kutahu, ibu kost yang awalnya sebel, lama-lama juga menikmati.

Sebagai mahasiswa kedokteran hewan, ia menghadapi banyak praktikum. Laporannya banyaknya ngga kira-kira. Setiap membuat laporan, ketika aku mulai punya komputer jadul pentium pro200, ia selalu mengerjakan dikomputer itu. Terkadang ia membuatkan kopi buatku sebagai sogokan.

Suatu ketika, seorang teman ngutak-atik komputer sampe komputer tua itu error dan sialnya, justru ia tinggal begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban. Yang paling ingin ngelabrak temen itu, ya si Mudrik ini. Datanya bejibun ilang semua dan harus diketik ulang. Beberapa teman lain, termasuk aku juga kehilangan data tapi memang paling parah ya si Mudrik. Sampe hampir setahun kemudian, barulah si teman ini kembali menampakkan wajah dan reaksi Mudrik? Sangat ingin memakannya! Tapi mungkin karena sudah lewat jauh, ia bisa mengendalikan diri.

Cerita kerajinan Mudrik mengaji, juga berlanjut pada kerajinannya dia kuliah dan ga tanggung-tanggung, ia rajin belajar dan foto copy buku-buku kuliahnya. Bukunya tebel-tebel, segede bantal. Dia ga berat hati menyisihkan uang rokoknya untuk keperluan itu. Pada tahun-tahun selanjutnya ia juga mulai memanjangkan rambutnya. Gondrong nggilani!

Salah satu hobby dan ketrampilan terselubung yang dimiliki Mudrik, yang tak banyak orang tahu adalah memasak. Ia suka memasak! Seringkali dulu, malam-malam ia pergi sendiri ke pasar lalu pulang membawa sayur mayur dan lengkap dengan bumbu-bumbunya. Paling ia sukai dulu ada masak cumi-cumi. Ya, cumi balakutak!

Oya, Mudrik ini sama sepertiku perokok dan peminum kopi kelas berat. Jadi diantara kami sudah biasa barter satu sama lain masalah keduanya. Terkadang juga ngotot-ngototan siapa membuat apa. Misalnya aku manasi air, dia yang bikin kopi demikian juga sebaliknya. Pernah satu kali diantara kami ga jadi ngopi gara-gara saling ga mau ngalah siapa yang duluan bikin kopi. Akhirnya pihak ketiga, seorang teman lain yang membuatkan kopi untuk kami.

Ia pernah membawa kopi dari Gresik. Karena kopinya digiling kasar, aku dan Onon, seorang pembuat kopi juga, menyebutnya kopi snack. Ya karena ketika minum kopi itu kami bisa sambil ngunyah butiran kopinya.

Selain rajin kuliah dan ngaji, perubahan lain juga mulai terlihat di diri Mudrik pada tahun keduanya di Denpasar. Ia mulai bisa dan asyik bergaul dengan lingkungan sekitar. Tak kurang dari ibu kos, ibu Gendut warung depan kost sampe tetangga-tetangga kost akrab dengannya. Keakraban itu membuat kenangan tersendiri dan membuat syok para tetangga tersebut ketika kabar kepergiannya disampaikan.

Kedekatanku dengan Mudrik sempat “terputus” ketika aku pindah kost dari Waturenggong ke tempat lain di Sidakarya. Tapi dasar namanya temen ngopi, ya ga akan jauh-jauh dari sesamanya. Walau jarak lumayan jauh dan dia ga ada sepeda motor waktu itu, tetap sering nyambangi aku di kost baru. Bahkan ketika satu-persatu teman mulai pindahan, mulai lulus dan pulang, si Mudrik inilah yang menjadi salah satu teman tersisa buatku.

Perubahan lain kembali terjadi pada tahun-tahun kemudian.

Entah mulai tahun keberapa, pergaulannya semakin meluas. Tidak hanya sinau dan ngaji, ia juga mulai aktif di komunitas seni dan aktifis kesenian. Ia tergabung dengan komunitas seni BotolBeling. Pada episode ini aku tak begitu menyimak kecuali dari cerita-ceritanya. Maklumlah, jarak kost juga sedikit banyak berpengaruh. Walau begitu aku tahu, ia sangat antusias berkesenian. Jika tidak salah ingat, dia bahkan pernah meregistrasi sebuah blog untuk komunitas Botol Bening yang sayangnya ga keurus.

Cerita kemudian berlanjut.

Semakin kesini, pendalamannya tentang keagamaan semakin mendalam. Ia mencari dan bertanya tentang banyak hal. Tentang Tauhid, Sunni, Syiah, Sufi dan segala hal diseputarnya. Belakangan topik tentang Syiah dan Sufisme dominan dalam pikirannya. Ia menemukan banyak hal menarik tentang Syiah. Pencariannya teramat luas. Ia tak hanya mengandalkan google dan buku-buku, ia juga banyak berdiskusi dengan banyak Kyai dalam proses pencariannya itu. Tak ketinggalan juga VCD keagamaan, utamanya tentang Syiah tadi. Yang kutahu kemudian, ia mulai mempraktekkan ajaran Syiah. Entah karena ingin mendalami atau dalam proses pencarian atau sudah mulai menemukan apa yang dia cari, aku ta begitu dalam menyelisik wilayah itu. Bagi kami, senyawa utama itu tetap sama: Kopi dan rokok.

Terakhir yang kutahu, data literatur yang yang ia download tentang keagamaan, tentang kedokteran hewan, tentang kemuliaan manusia dibanding hewan, tentang pencarian keTuhanan mencapai lebih dari 3 giga byte dan butuh berkeping-keping CD buat membackup datanya. Itu baru yang digital. Koleksi bukunya, menuh-menuhi isi kamar. Aku masih menyimpan satu darinya: Pelajaran Sholat Lengkap!

Mungkin ini pesan tersamar buatku, perbaiki sholatmu Rif!

Waktu kemudian terus bergerak cepat sampai akhirnya dia lulus dan pulang ke Jawa! Sialnya dia ga pamitan dan entengnya ngakak ketika kutelepon karena lama ga nongol! Huah..menjengkelkan!

Selang berapa lama, kemudian komunikasi dengan si Mudrik ini terbangun lagi. Ya, lewat Facebook di ID lama ku. Disana kami saling cekakan, senda gurau seperti biasa. Lalu lama tak ada lagi kontak karena account FB’ku kumatikan permanen. Sampai satu siang itu, sebeuah telepon masuk, dari Wafi yang mengabarkan kepergian Mudrik, yang membuat syok ketika mendengarnya.

Ahsanu Mudrik, seorang teman, seorang pembuat dan peminum kopi, seorang perokok, seorang dokter hewan, seorang pencari Tuhan itu telah menemukan apa yang dia cari. Ya, Mudrik telah menemuiMu ya Allah! Muliakan dia disana ya Rabb!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *