Jangan Gaji Rendah Pengawas dan Pelaksana Proyek

Pernah nonton acara berita kriminal di sebuah stasiun televisi swasta siang hari? Di acara tersebut, setiap akhir acara mereka menyampaikan pesan positif tentang perlunya mewaspadai kejahatan. Kejahatan tidak hanya muncul karena niat, tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah!


Pesan tersebut bisa ditarik kemana saja, salah satunya dunia konstruksi. Ketika kualitas dan kesempurnaan -menurut standard manusia, tentu saja-, menjadi target utama pelaksanaan sebuah proyek konstruksi, tak pelak menempatkan setiap elemen yang terlibat didalamnya dalam posisi terhormat adalah satu hal penting yang tak bisa diremehkan. Termasuk didalamnya adalah seorang pengawas atau pelaksana proyek.

Tak jarang terdengar, ada banyak kawan yang berposisi sebagai seorang pengawas atau pelaksana proyek tidak mendapat reward selayaknya. Mereka digaji rendah yang bahkan sekadar untuk hidup cukup pun tidak cukup. Padahal, mereka telah mempersenjatai diri dengan kekuatan akademis yang tak mudah menempuhnya dan dibebani tanggung jawab yang tak ringan. Pada beberapa perusahaan kontraktor yang masih mencari identitas, seorang pelaksana bahkan juga merangkap sebagai administratur, estimator sekaligus logistik.

Sekarang, dengan gaji yang untuk hidup cukup saja tidak cukup, bukan mustahil orang yang dari awalnya jujur dan berkarakter kuat akan luluh dan mulai mencari celah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak cara dalam dunia proyek, dan itu mudah dilakukan.

Kong kali kong dengan mandor, dengan supplier atau bahkan dengan pengawas yang levelnya lebih tinggi. Bentuknya bisa beragam. Memberi toleransi kesalahan secara berlebihan, mengurangi spesifikasi rencana atau juga merubah spesifikasi rencana itu sendiri dan itu dilakukan dengan imbalan tertentu. Untung sama untung, tahu sama tahu.

Pada situasi lain, bukan mustahil -dan sudah sering terjadi-, pengawas itu akan nyambi mencari celah pekerjaan lain, yang efeknya akan mengurangi konsentrasi kerjanya. Pengawasan terabaikan, pekerja pada level dibawahnya tak terkontrol dengan baik.

Akibat dari kemungkinan-kemungkinan diatas, terkadang bisa sangat fatal. Kualitas proyek jadi menurun, faktor keamanan menurun dan jika sampai owner tau, bukan mustahil bongkar pasang atas kualitas yang menurun tadi tak sekali-dua kali terjadi. Paling parah, tak lain dan tak bukan adalah rusaknya mentalitas dan karakter jujur pada diri pengawas yang tadinya baik-baik saja.

Mungkin, akan ada counter argumen atas situasi ini, bahwa kategori hidup cukup itu relatif demikian juga besaran nilai gaji. Manusia punya kecenderungan ingin lebih dari kewajaran yang wajar. Ini mungkin saja terjadi, tapi bukan sesuatu yang tak dapat di cegah. Kejujuran dan profesionalitas kerja, bukan hanya sebuah keniscayaan yang hanya diharap,melainkan juga sebuah iklim yang bisa diciptakan jika mau.

Dengan memberikan reward yang sepadan dengan tanggung jawabnya, bukan mustahil kejujuran dan profesionalitas kerja akan meningkat. Dengan demikian, kualitas hasil pekerjaan pun akan berjalan seiring. Target utama tak akan dibayangi ketakutan ketakutan yang tidak perlu.

5 comments on “Jangan Gaji Rendah Pengawas dan Pelaksana Proyek

  1. BT, aku tuh ‘trenyuh’ dengan gambaran berpuluh-puluh pekerja proyek sebuah hotel. Tampilan mereka ala kadarnya, kumuh, istirahat siang di tempat sekenanya. Padahal mereka tuh ujung tombak sebuah properti prestisius. Jelas, jika hotel itu sudah jadi, mereka tidak akan berhak menikmati, even only menginap semalam saja. Kasihan euy para pekerja itu.

  2. para pkerja proyek, blm bisa utk bersaing satu dengan yg lainnya, kalau di lihat ketrampilan per individu mash ok, akan tetapi di lihat secara tim…blum bisa utk mencapai target kualitas, di karenakan blm adanya suatu wadah utk menunjang ke sejahteraan hidup nya baik pengawas/pelaksana, mandor, sampai kepada pekerja, smua itu hrs di standarisasikan dgn kbutuhan hidup yg sesuai pada saat ini, kalau smua itu sdh terpenuhi, baru langkah selanjut nya di terapkan di siplin bekerja.

  3. tepat sekali,dengan gaji yang rendah dan dengan tugas yang tidak sedikit,siapapun orangnya tidak akan betah.
    saya pernah bekerja sebagai pelaksana di suatu tempat yang sedang mencari jati diri,jadi ya tugas saya double2,pergi pagi pulangnya malam,akan tetapi gaji yang saya terima hanya umr buruh saja. itu yang kebangetan bos nya atau siapa ya? haha

  4. Yang lebih parah lagi, saya di gaji dibawah UMR.
    Krna sya trgolong orang baru, jd saya diam saja.
    Dan blm ada janji2 dr pimpinan utk kedepannya.
    ma skdr kendaraan inventaris saja blm terlaksana.
    Tak ada tunjangan lain sprti transport/ uang makan. Bonus pun blm dijanjikan smpe proyek selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *