Menyimak Relasi Kampus dan Alumninya

Bukan sekali atau dua kali aku mendengar banyak kawan yang baru menyelesaikan study dengan berbagai gaya menafikkan eksistensi almamater tempat mereka menempuh study. Beberapa karena merasa tak bangga, beberapa merasa tak membutuhkan dan yang lain memandang itu sebagai sesuatu yang tak penting.


Banyak yang berpandangan bahwa setelah wisuda, selesai pula hubungan mereka. Kenyataan ini berulangkali muncul dalam perbincangan antar kawan. Seolah-olah, selepas dari kampus, lepas dari hantu yang menakutkan dan ingin segera meninggalkannya. Maka, yang kemudian terjadi adalah tak adanya komunikasi dan proses edukasi yang berkelanjutan antar keduanya. Tidak semua begitu, tidak sedikit yang begitu.

Pandangan yang memandang tidak pentingnya komunikasi berkelanjutan, sering terjadi karena sebelumnya memang tak pernah berkomunikasi dengan civitas akademika lain. Jika seseorang hanya mengerjakan hal-hal rutin yang dibebankan padanya, niscaya ia tak akan memandang penting melakukan hal-hal diluar rutinitasnya itu. Textbook, ujian, textbook, ujian, selesai.

Alasan lain, juga bisa muncul karena pada masa kuliah dulu sebel dengan aturan-aturan kampus atau punya dendam pribadi kepada karakter tertentu dalam dunia kampus. Kalo sudah begini, buat apa di baik-baikin. Lupakan dan raih dunia baru.

Sebaliknya yang memandang pentingnya komunikasi berkelanjutan, justru memandang almamater adalah sebauh aset penting dalam karirnya. Seorang kawan yang memiliki pandangan seperti ini mengatakan, bahwa sangat tidak bijak jika seorang alumni mengabaikan atau melalaikan almamaternya. Kampus, kata dia, adalah kumpulan orang-orang pintar yang tak sepantasnya disia-siakan. Para dosen, adalah konsultan terbaik untuk menjawab permasalahan yang dihadapinya di dunia kerja. Selain para dosen itu memang ahli dibidangnya, tak kalah penting adalah gratis! Jadi, kenapa harus memutus tali silaturahmi?

Lebih lanjut, kawan tadi bertutur bahwa ia berulangkali menghadapi masalah dengan pekerjaannya. Pernah satu kali ia kebingungan menentukan jenis pondasi untuk proyek pertamanya sebagai kontraktor -dan sekaligus perencana- yang berdiri diatas bekas urugan sampah. Pernah pula balok yang menurutnya sudah direncanakan dengan benar, ternyata malah melendut. Atas masalahnya itu, kawan ini tidak ragu untuk kembali ke dosennya untuk memperoleh jawaban dan solusi.

Sang dosen? tak satu pun yang menolak untuk membantu! Mereka dengan senyum dan bangga memenuhi permintaan sang alumni. Kebanggaan karena mendapat perlakuan terhormat dari mantan anak didiknya yang tak bisa dinilai dengan materi. Bukan hanya sekadar saran akademis, kawan tadi malah memperoleh rekomendasi dan detail tentang teknis pengerjaannya.

Pertanyaan selanjutnya, apakah hanya itu yang mungkin dilakukan? Apakah hanya ketika ada masalah, sebuah komunikasi antara alumni dan almamater dilakukan? Rasanya tidak. Seorang alumni yang datang menyampaikan kisah suksesnya, atau memfasilitasi juniornya untuk maju, pun adalah bentuk komunikasi dan kontribusi yang penting. Memberikan sumbangan ide, pemikiran juga materi, tentu tak akan ditolak. Dari sana, kelak tak semua orang adalah kompetitor tapi akan lebih banyak orang akan menjadi partner.

Tak melulu dari alumni, dari pihak kampus pun bisa juga mengambil inisiatif lebih dulu. Banyak yang bilang lulusan universitas yang hanya siap latih, so, kenapa ga dilatih sekalian? Tentu dengan muatan yang lebih praktis dan berhubungan langsung dengan praktek kerja tidak lagi melulu landasan teori.

Anda yang kritis membaca tulisan ini, mungkin akan berkomentar -dalam hati-, “ah banyak kampus lain udah melakukan ini, kok baru nulis sekarang”.

Hey, read between the lines! Blog ini adalah sebuah blog asal tulis! Abaikan jika menurutmu ga penting.

Satu lagi. Seorang patron dalam dunia kerja pernah menyampaikan, jika kamu sudah lulus jangan ragu kembali ke kampus untuk menunjukkan rasa terimakasih kamu. Pay your gratitude. Jika kamu bingung caranya, datang saja ke ketua jurusanmu dan sampaikan bahwa kamu ingin membantu juniormu memahami dunia kerja dan kamu ingin meluangkah waktu beberapa jam dalam seminggu untuk memberikan konseling. Mereka pasti akan sangat berterimakasih atas niatmu. Kamu akan bangga mampu berbagi pengalaman dan kampus akan beruntung mereka memperoleh nilai positif darimu.

Demikian kawan, menulis malam ini selesai. Jika anda tertarik dengan ide ini, Silakan membuka kembali catatan alamat dan nomer telepon bapak ibu dosen. Hubungi mereka dan sampaikan,”Pak Ai miss youuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu”!!! 🙂

Denpasar,
11:53 PM 12/27/2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *