Mundur Lalu Melompat? Kenapa Tidak

Dalam meniti jenjang karir, apa yang kita inginkan? Terus maju dan meningkat itu pasti. Mundur? Kalo bisa jangan atau tidak sama sekali. Tapi bagaimana jika kita berhadapan situasi yang sulit dihindari bahwa kita harus mundur sementara waktu sampai kemudian ketemu sebuah kesempatan untuk maju dan melompat? Apakah pilihan mundur sesaat tadi akan kita abaikan?

Seorang kawan bertutur bahwa di perusahaan tempat ia bekerja saat ini, ia berada pada posisi sulit. Bukan karena ia tidak berprestasi, namun efek krisis global rupa-rupanya menghantam banyak kontraktor dan developer di Bali. Terutama, kontraktor dan developer yang mempunyai keterkaitan dengan ekonomi global. Pembeli dari pihak asing yang menurun atau pembangunan yang ditunda. Dalam situasi sulit tersebut, pengurangan jumlah karyawan adalah sebuah pilihan yang secara alami akan dipertimbangkan oleh sebuah perusahaan kontraktor atau diveloper.

Atas situasi itu, kawan tersebut berusaha mencari peluang dan kesempatan lain sebelum kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi. Dari berbagai informasi yang ia peroleh, ada sebuah peluang untuk bekerja di perusahaan lain. Perusahaan tersebut jauh lebih besar dari perusahaan tempat ia bekerja. Tapi, posisi yang mungkin untuk dia masuki satu tingkat dibawah posisinya sekarang. Perlukah dia ambil peluang itu atau lebih baik bertahan pada apa yang dia pegang sekarang dan menanti surat sakti atas nama perampingan karyawan? Mari kita lihat bersama.

Untuk mudahnya, kita sebut saja bahwa posisi dia sekarang adalah salah seorang dari staf manajemen proyek dan mengawasi sejumlah pelaksana lapangan. Posisi yang ditawarkan padanya, adalah sebagai pelaksana lapangan. Perusahaan baru yang akan dia masuki, jauh lebih besar dari perusahaannya sekarang baik dari segi permodalan maupun jaringan kerja.

Kepadanya, ketika ia sampaikan cerita ini, penulis jawab kenapa tidak kalo memang itu berpeluang untuk menjadi lebih baik. Bagaimana bisa lebih baik? Ia balik bertanya.

Melalui obrolan rileks antar kawan, penulis ingatkan ke dia bahwa bukankah selama ini pekerjaannya selalu mengawasi pelaksana lapangan bekerja? Dengan dasar itu, sudah semestinya ia tahu bagaimana idealnya seorang pelaksana lapangan bekerja. Kesalahan-kesalahan apa yang umumnya mereka lakukan, langkah-langkah praktis apa yang mereka pilih ketika ada masalah dan banyak kemungkinan lain. Termasuk didalamnya, bagaimana mengatasi dan menghadapi perilaku tenaga kerja.

Selama menjadi pengawas para pelaksana lapangan, bukankah itu kesempatan untuk mempelajari kekurangan dan kelebihan jabatan itu? Juga kesempatan untuk mempelajari bagaimana mengoptimalkan kinerja mereka selain tentu saja menjadikan mereka sebagai sasaran amarah ketika boss besar menjadikan kita sebagai sasaran amarahnya.

Jika ia mau melihat itu semua dengan pikiran yang positif dan tidak semata-mata mengukur pekerjaan itu sebagai sebuah rangkaian bagan struktur kepegawaian, maka mundur sesaat bukanlah sesuatu yang buruk. Tentu saja, ia pun harus mempertimbangkan faktor ekonomi yang dalam tulisan ini tidak termasuk sebagai pertimbangan utama.

Ketika turun sebagai seorang pelaksana di perusahaan barunya nanti, dengan bekal pengalaman dan didukung kecerdasaannya, kemungkinan besar ia tak perlu berlama-lama berada posisi itu. Ia bisa meng-akselerasi kinerjanya menjadi maksimal. Ia tau dimana titik lemah dan kekuatan yang harus dia bangun.

Memang benar, bahwa dunia proyek tidak selalu sama. Proyek A tidak akan selalu sama dengan proyek B itu nyaris semua orang tahu. Tapi, prinsip-prinsip pelaksanaan proyek akan selalu sama. Disanalah ia menggenggam peluang dan mempunyai kesempatan membangun reputasi yang lebih baik di perusahaan yang jenjang karirnya jauh lebih tinggi.

Begitulah logika sederhana menjawab persoalan kawan itu. Begitu pula yang penulis sampaikan padanya. Take the bright side. Pengawas pelaksana dan pelaksana lapangan dalam tulisan ini adalah penyederhanaan masalah. Persoalan rumit biasanya lebih mudah dipahami dengan pikiran dan pendekatan yang sederhana.

5 thoughts on “Mundur Lalu Melompat? Kenapa Tidak

  1. Hi Bung, jika tuan berhijrah profesyen, bukanlah bermakna pengalaman dalam kerja kejuruteraan sivil / infra works dibiar tidak dikongsikan. Update bung ..

  2. Mas Arif Novianto, saya mau bertanya, yang tertulis di situ adalah dia mendapatkan perusahaan yang lebih baik dengan jabatan kurang baik. bagaimana kalau kesempatan mendesak tersebut mendapatkan sallery yang kurang baik juga? ada solusinya gak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>