Kisah Seorang Infanteri Sipil

Infanteri sipil? Maksudnya apa?

Sebelum anda meng-klik read the rest of the story, mungkin ada sedikit pertanyaan, apa hubungannya infantery dan sipil?

Jika anda pernah tinggal atau bahkan kuliah dibali, tentulah tau bahwa transportasi umum disini teramat minim. Keberadaannya hingga kini mati segan hidup pun rasanya malas. Maka, di Bali ini, sepeda motor adalah kaki anda yang utama. Jika tak punya? Jadilah anda seorang infanteri. Kemana mana jalan kaki.

Kisah kali ini adalah kisah seorang kawan yang pernah kenyang dengan julukan infanteri sipil. Mahasiswa teknik sipil yang kemana-mana jalan kaki. Jangan salah, dari tahun 96 sampai awal tahun 200an, penulis pun bernasib sama.

Kawan yang satu ini khas. Disesama infanteri sipil,sosok yang satu ini tergolong infanteri paling aktif. Kesana kemari dan tak merasa lelah. Tapi yang lebih penting dari itu untuk disimak, adalah kisah hidupnya, kisah cintanya pada pilihan yang dia pilih sebagai pecinta “teknik sipil”.

Awalnya, banyak kawan lain yang berkomentar bahwa dia ini salah jurusan. Kuliah cenderung berantakan, malas mengikuti perkuliahan dan parahnya lagi ia punya hobi buruk, mabuk. Uniknya, ketika mabuk, dia tidak suka bikin onar atau rese. Dia memilih jalan-jalan danngobrol dengan tiang listrik.

“Heh, elo, ngapain lo mau jadi tiang listrik? Mau mau aja berdiri di pinggir jalan siang malam. Tidur sana loo, ntar di cari mak mu. Heh, jawab dong jangan diem aja, payah loo..gue lagi mabok neee….”

Hal aneh lain pada diri sang infanteri satu ini adalah bahwa ia begitu tergila-gila dengan karakter seorang perawat. Suatu ketika ia pernah sengaja menenggak obat-obatan sampai over dosis agar ia masuk rumah sakit. Ketika sembuh, ia tidak mau pulang karena naksir perawat yang merawatnya.

Khas, dan begitulah dia. Cukup berantakan sampai entah karena apa, dia mengalami titik balik yang bisa dibilang cukup drastis. Tentang ini, di kemudian hari dia bercerita bahwa ia mengalami ada perubahan pemahaman spiritual. Ada yang mengingatkan dan mendorongnya untuk kembali menempuh jalan yang benar sesuai ajaran agamanya. Dorongan yang tulus telah membuka mata hatinya.

Perlahan, mulailah ia kembali rajin mengikuti perkuliahan di kampus. Di banyak mata kuliah, ia harus “turun gunung” alias kembali mengulang mata kuliah yang tidak lulus di semester-semester awal. Tak terlihat gengsi dan malas dimatanya, perubahan itu mulai terjadi. Sang infanteri kembali menjelajah jalanan denpasar. Bedanya, kali ini tidak dalam keadaan mabok, melainkan untuk mengerjakan tugas bersama kawan-kawan lain.

Sampai kemudian, perubahan itu makin terlihat. Biarpun banyak jalan terjal dan berliku, ia menyelesaikan banyak mata kuliah yang tertunda dengan baik dan mulai menempuh skripsi sambil bekerja kontrak di sebuah instansi BUMN. Namun, walau cukup rajin bekerja, tak ada kontrak baru di terimanya. Selama masa kerja kontrak itu, ia berhasil mencapai satu tahap penting dalam hidupnya, menyelesaikan skripsi dan menikah dengan seorang perawat!!!

Selesai kuliah, selesai pula kerja kontraknya, dan anak telah lahir. Tanggung jawab datang silih berganti. Kawan, dia menghadapi dan tidak lari dari tanggung jawabnya.

Cerita berlanjut, setelah kuliah ia bekerja bersama dengan seorang sobatnya. Mereka berdua bekerja pada seorang arsitek asing yang baru memulai karirnya di Bali. Tapi dasar mungkin belum jodoh, sang arsitek belum cukup kuat untuk menggaji dia sebagai karyawan. Terpaksalah dia diberhentikan dan di “hadiahi” secarik kertas keterangan telah berpengalaman kerja. Atas situasi ini, ia tak berkecil hati. Diakuinya, ia memperoleh sesuatu yang sangat berharga bagi karirnya kedepan yakni kesiapan mental, cara berfikir yang lebih terbuka dan kesadaran atas banyak kekurangan dalam dirinya. Apa yang diperoleh di bangku kuliah, disadarinya tidaklah cukup untuk menghadapi tantangan dunia kerja. Sempat, suatu ketika dia bertutur,

“Modal lulus dari kampus emang penting man. Tapi ga cukup, dan gue ga mau nyerah. Gue pengen belajar dan paham dunia teknik sipil. Teknik sipil ini pilihanku, cita-citaku.”

Kepadaku, ia ngomong “elu-gue”, karena kami memang berasal dari kampung yang sama, kampung jakarta, meski bukan asli jakarta.

Ia kini memulai petualangan baru. Taukah apa yang dia lakukan?

Setiap hari, sembari menunggu panggilan kerja atas lamaran-lamaran yang dibuat, dia kembali ke jalan lamanya menjadi infanteri. Hanya saja kali ini tidak berjalan kaki melainkan sudah dengan sepeda motor. Mungkin istilahnya musti diubah menjadi kavaleri sipil.

Disambanginya berbagai proyek yang sedang berjalan. Ke beberapa proyek yang dia temui dia mampir, memperkenalkan diri kepada pelaksana proyek dan minta ijin untuk melihat mereka bekerja. Dia ingin belajar melihat dan memahami pelaksanaan sebuah proyek.

Tanpa gengsi dan malu-malu setiap hari selama satu sampai dua jam dia singgah ke sebuah proyek hanya untuk bertanya dan ngobrol dengan pelaksana atau mandor yang ada, serta memperhatikan bagaimana mereka bekerja. Sebungkus dua bungkus rokok ia relakan untuk mengakrabkan suasana dan bersosialisasi.

Kawan, kemauan dan rasa ingin tahunya kuat. Banyak hal detail ia tanyakan dan memperoleh jawaban. Banyak jawaban ia pahami, banyak jawaban lain justru menimbulkan banyak pertanyaan baru. Beberapa jawaban, sama dengan yang diperoleh di kampusnya, banyak jawaban lain tak pernah ia dengar sebelumnya.

Sampai kemudian, waktu terus berlalu dan sebuah panggilan interview datang padanya. Selama masa infanteri terakhir, cukup banyak informasi dan pengalaman yang dia peroleh. Di proyek A, ia memperoleh informasi tahap pelaksanaan struktur, di proyek B, ia memperoleh informasi tahap awal pelaksanaan sebuah proyek, di proyek C ia memperoleh pengetahuan tahap finishing sebuah proyek. Ia pun mempelajari kelebihan dan kekurangan pada masing masing proyek tersebut.

Plus, diperolehnya juga informasi lain tentang teknis pelaksanaan atau teknis manajemen sebuah proyek. Ia, mungkin tak berpengalaman langsung pengelolaan pelaksanaan proyek, tapi ia belajar dari banyak pengalaman orang lain. Dia kini siap menghadapi sebuah interview di sebuah perusahaan kontraktor yang cukup ternama.

Taukah anda bagaimana hasilnya? Ia percaya diri dan mampu meyakinkan pewawancara bahwa ia mampu bekerja. Kini, ia menjadi salah satu orang penting di perusahaan kontraktor itu.

9 comments on “Kisah Seorang Infanteri Sipil

  1. Sopo iku uwonge rek ? Gue kek nya belon faham maksud elo. Apakah gue kenal die ye ? Duh kaki gue injek gue neh. Dah lah BT. Namamu memang identik dengan Balik ke Tjampus. Selamat skripsi wahai kavaleri sipil. Gue mao bobok dengan gue sendiri. Halah

  2. Perjalanan yang panjang dan berliku tetaoi endingya lumayan hepi, kegigihannya patut diacungi dua jempol, jadi dia layak dapat tempat yang penting di tempat kerjanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *