Memperbaiki Kesalahan Itu Mahal!!

Tulisan ini berangkat dari sebuah pertanyaan singkat tentang manajemen proyek. Progress atau kualitas?

Dua hal ini acapkali menjadi handicap bagi banyak kontraktor yang tak terlalu well organized. Semestinya keduanya seimbang sebagaimana teori dasar manajemen proyek yakni keseimbangan antara Biaya, Mutu dan Waktu. Namun tak jarang, karena berbagai alasan baik itu yang wajar diterima ataupun yang terpaksa diterima, keseimbangan yang diharapkan dalam pelaksanaan sebuah proyek itu tak selalu tercapai. Paling sering terdengar adalah tuntutan untuk mencapai progress tertentu agar syarat dan termin pembayaran tercapai. Kualitas dikesampingkan karena yang penting progress tercapai, terima uang, bisa bayar bon di toko material dan ada cashflow untuk proyek lain. Itulah yang biasa dikejar mengingat banyak diantara kontraktor disekitar kita yang menerapkan sistem gali lubang tutup lubang. Terima DP dari proyek A, bukannya digunakan untuk memulai proyek malah di gilir untuk nutup pembiayaan proyek lain.

Ok, kembali ke pertanyaan awal, progress atau kualitas? Jawaban paling sederhana, adalah sesuai dasar teori tadi, bahwa keduanya harus seimbang. Progress dan kualitas berjalan seiring sesuai dengan kontrak awal pembangunan proyek. Jawabannya sesederhana itu? Iya, karena yang tidak sederhana adalah risiko dari ketidak seimbangan yang mungkin terjadi. Jika kualitas buruk, progress yang diharapkan akan di capai pun akan sia sia karena nantinya hanya berujung pada bongkar pasang pekerjaan yang pasti akan membuat bengkak pembiayaan proyek.

Berikut sebuah cerita ilustratif yang mungkin akan lebih memperjelas pemahaman topik ini.

Sebutlah sebuah proyek yang berlokasi pada sebuah area persawahan yang bisa dibayangkan bagaimana kondisi tanahnya. Setelah pondasi selesai dikerjakan, kolom kolom berdiri, pelaksana melakukan pemadatan lahan sebagai lantai kerja, hanya dengan lapisan limestone tanpa membuat perkerasan beton rabat. Ini dilakukan karena ia ditekan atasannya agar segera melaksanakan bangunan bagian atasnya (lantai 1 atau atap beton misalnya) karena dengan pencapaian itulah akan dicapai progress yang sesuai dengan termin pembayaran. Jika musti ngerabat dulu, akan makan waktu lama lebih lama. Jadilah pelaksana itu melangkah pada tahap selanjutnya, yakni mendirikan perancah diatas limesotone yang telah dipadatkan.

Walau pelaksana tersebut menyadari bahwa ini semua ga tepat, namun dilaksanakan juga tahapan selanjutnya sampai pada tahap lantai atas siap cor. Pemeriksaan akhir sebelum pengecoran, semua kondisi normal. Lantai dasar telah padat, dan kaki-kaki perancah telah didasari dengan balok-balok kayu pengganjal agar tidak ambles. Sedikit aneh, namun kadang-kadang bisa diterima.

Nah, sampai disana, situasinya normal dan rasanya besok ketika akan di cor, semua akan baik baik saja. Tapi sayangnya, harapan tak selamana menjadi kenyataan. Malam sebelum pengecoran, hujan turun. walau tidak terlalu deras, cukuplah untuk memberikan kandungan air tambahan pada lapisan limestone di lantai dasar, yang dengan sendirinya, juga akan menurunkan daya dukungnya. Dan benar saja, ketika pengecoran berlangsung, salah satu kaki perancah itu ambles dan memberikan hasil sangat buruk pada hasil akhir pengecoran. Hasilnya? Beton yang melendut dan apa yang direncanakan tidak berjalan dengan semestinya.

Apes bukan? Dan kemalangannya tidak hanya berhenti disitu, karena kemudian ada pihak lain yang tidak terima, yakni owner. Itu artinya, kerja tambah tanpa pembayaran. Bisa jadi beton itu dibongkar ulang atau dilakukan proses retrofit. Bukan sesuatu yang bisa dibilang murah.

Nah, itu contoh sederhana, yang mungkin ada disekitar kita. Terlihat jelas disana, bagaimana jika sebuah pelaksanaan proyek yang dilakukan terburu-buru dan tidak taat azaz, hanya akan menghasilkan kesusahan dan dari niat sebelumnya ingin segera dapat untung malah buntung. Jadi kawan, baiknya kita ingat bahwa memperbaiki kesalahan itu mahal, maka mari kita kerjakan sebuah proyek dengan taat azaz dan tidak main tabrak kemestian yang harus dijalani. Rasanya, agak lambat dikit lebih baik daripada sembrono dan menurunkan standar kualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *