Perubahan Dalam Sebuah Proyek

Perubahan dalam sebuah proyek, entah perubahan desain atau rencana fungsi ruang seringkali menjadi momok yang dibenci pelaksana proyek (baca:kontraktor). Akibat dari sebuah perubahan antara lain bisa berdampak pada termin waktu dan biaya overhead yang harus ditanggung pelaksana proyek yang molor atau membengkak. Jika proyek tersebut dijalankan dengan sistem gambar hidup, niscaya akibatnya lebih dari itu, karena faktor ketidak pastian menjadi tinggi. Gambar hidup itu sendiri adalah penilaian negatif terhadap sebuah istilah akademis yang dipandang positif, sistim fast track.

Jika fast track dipandang secara positif sebagai sebuah metode mempercepat proyek dengan menjalankan tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan secara paralel, istilah gambar hidup muncul dengan cara pandang negatif terhadap sebuah proyek yang acapkali dirubah desainnya atau tidak ada kepastian desain. Perubahan-perubahan ini bisa jadi berasal dari pemilik proyek atau dari pihak perencana. Bisa juga, perubahan timbul karena merupakan solusi dari suatu kesalahan pelaksanaan.

Seorang pemilik proyek, terutama jika ini proyek rumah tinggal akan cenderung memandang apa yang ada di lapangan dari sudut pandang, perasaan dan imajinasinya sendiri karena memang ia dan keluarganyalah yang nantinya akan hidup disana. Pandangan, perasaan dan imajinasi tentang apa yang diperlukan dan apa yang diinginkan akan cenderung menguat ketika proyeknya sudah kelihatan berbentuk, walau belum finish. Kamar yang dirasa kekecilan, kamar mandi yang dilihatnya terlalu sempit atau dapur yang tidak sesuai yang diinginkan sang istri. Hal-hal seperti inilah yang mempengaruhi pikirannya untuk melakukan sebuah perubahan.

Makin banyaknnya informasi desain di media masa, pun dapat menjadi sumber ide seorang pemilik proyek untuk melakukan perubahan. Jika dilihat sebuah desain yang lebih bagus, dan dirasa cocok untuk dipasang di proyeknya maka kenapa tidak dipasang disana? Salah satu sumber perubahan dari pihak pemilik proyek yang tidak murni berasal dari dirinya sendiri juga bisa muncul dari komentar teman yang diajak berkunjung untuk melihat proyeknya. Jika sampai seorang kawan yang diajak melihat proyek sampai berkomentar begini-begitu, alamat perubahan itu akan datang.

Sementara, perubahan yang datang dari pihak perencana atau arsitek, bisa saja terjadi karena memang mereka bukan makhluk yang sempurna. Bisa saja ada kesalahan desain atau kesalahan menentukan teknis lain. Bisa juga karena ketika mereka menginpeksi proyek menemukan gambaran fungsi dan ide lain yang lebih baik. Jika ini menurutnya menambah sebuah value terhadap proyek itu, kenapa tidak juga dilakukan perubahan.

Nah, ketika perubahan-perubahan itu ternyata adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa di hindari, terlepas darimana sumber perubahan itu, yang menarik untuk kita lihat adalah bagaimana menyikapinya. Jika anda adalah pemilik proyek, diyakini anda ingin perubahan itu segera dilaksanakan. Demikian juga jika anda berada disisi perencana. Dua pihak pertama ini, memiliki kecenderungan untuk mencapai desain ideal yang memperkuat konsepsinya tentang tujuan akhir proyek tersebut.

Sebaliknya, hampir bisa diyakin di pihak pelaksana proyek. Mereka tak akan mau melaksanakan perubahan segera. Kenapa? Pelaksana proyek adalah pihak yang paling kena dampak negatifnya, terlebih jika perubahan itu harus mengakibatkan bongkar pasang pada elemen yang sudah selesai dikerjakan. Mereka, tentulah ingin perubahan perubahan itu ada biayanya. Mereka juga akan berhitung masalah waktu pelaksanaan dan efeknya terhadap pekerja dan pekerjaan lain.

Karena hasrat yang saling bertolak belakang, dan jika perhitungan dan perjanjian kontrak tidak memperhitungkan kondisi-konsisi ini, bukan mustahil pelaksanaan proyek menjadi berantakan atau kontra produktif. Pelaksana proyek yang masih berstatus pemula atau dengan manajemen amatiran, seringkali tidak memikirkan hal-hal seperti ini yang justru bisa menjadi bumerang dalam perjalanannya. Mereka cenderung berfikir yang penting dapat proyek dulu, persoalan yang akan datang kemudian ya dihadapi nanti saja. Sebuah kecerobohan yang sayangnya terlalu sering terjadi.

Lalu bagaimana menghadapinya?

Kontrak, kontrak, kontrak! Yah, sampai tiga kali? Ya, karena disanalah semua spesifikasi dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi disepanjang jalannya proyek bisa dirujuk dan diantisipasi. Termasuk didalamnya terhadap perubahan-perubahan yang mungkin terjadi atau bahkan pada skala yang lebih menyeramkan, kemungkinan konflik antar elemen pelaksanaan proyek.

Selain itu? Niat baik dan kebersamaan setiap elemen proyek untuk mencapai target yang sama. Pemilik yang menginginkan proyeknya berhasil dengan baik sesuai citarasanya, perencana yang merencanakan proyek tersebut dengan hasrat yang tinggi untuk mengasilkan nilai desain yang baik dan pihak pelaksana yang punya rasa memiliki yang tinggi.

Pada akhirnya, jika sebuah proyek itu berjalan dengan baik, walau banyak perubahan-perubahan atau bongkar pasang, toh akan menjadi nilai tambah bagi semua pihak. Portofolio perencana dan pelaksana yang bertambah dan pemilik proyek yang berbahagia.

7 thoughts on “Perubahan Dalam Sebuah Proyek

  1. Ulasan menarik,
    Perubahan untuk perbaikan mutu atau design memang harus dilakukan, tetapi yang sering dijumpai di lapangan banyak perubahan terjadi hanya untuk menanggulangi masalah anggaran proyek (yang sebenarnya bisa diprediksi sebelumnya), untuk menyikapinya seringkali mengharuskan dilakukan tindakan2 yang sedikit menyimpang dari kaidah2 teknis yang seharusnya dipegang.
    Disinilah idealisme sering kali “diperkosa”.
    Untuk situasi saat ini di Indonesia sepertinya sangat susah untuk berpegang teguh pada idealisme kecuali ingin “ditendang” atau tidak dapat proyek, akhirnya ya realistis dan ikuti saja asal tetap aman……he..he..

    1. @Reza Fauzi,
      ya mas, sante aja…mungkin bahasanya ada harus diperbaiki atau memang beda bidang :)

      kalo bahasa radionya, stay tune dan ngikutin mungkin akan lebih mudah

      btw, thanks for visit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>